Show Up

Rabu, 20 Oktober 2010

Fenomena Kecantikan Barbie

    Para perempuan diseluruh dunia pasti mengenal nama Barbie. Yah, siapa yang tidak kenal boneka dengan sosok wanita cantik nan langsing, berambut pirang dan panjang, berkulit halus, putih, dan mulus, serta bermata indah berwarna biru berasal dari negeri Paman Sam itu. Kecantikannya yang tidak pernah pudar dimakan usia membuat para gadis kecil hingga wanita dewasa diseluruh dunia mengidolakannya bahkan mungkin melebihi para seleb kelas dunia.
Banyak wanita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia mendambakan gaya hidup seperti Barbie. Tanpa bekerja keras Barbie sangat populer, punya istana mewah, mobil mewah, shopping barang-barang mewah setiap hari, mempercantik diri di salon, pakaian mewah dengan merk ternama, bisa bepergian kemana saja, dan tentunya punya pangeran tampan yang kaya raya, baik hati, dan selalu setia disampingnya. Satu hal lagi yang membuat banyak wanita menginginkan dirinya seperti Barbie, yaitu sosok Barbie yang tidak akan pernah menjadi tua meski usianya sekarang sudah setengah abad.
Kita semua mungkin mengetahui bahwa Barbie dan sosok-sosok fantasi lainnya merupakan sosok kehidupan yang tidak nyata. Meskipun demikian, sebagian dari kita pasti mengetahui Cynthia Jackson, aritis papan atas Hollywood. Dia dikenal sebagai sosok Barbie hidup di Amerika. Ada juga yang mengatakan ia sebagai kembaran Barbie. Julukan-julukan seperti itu tidak muncul begitu saja, tetapi lebih karena Cynthia telah menjalani lebih dari sepuluh kali operasi plastik untuk mengubah dirinya menjadi Barbie.
Dahulu di Indonesia, Krisdayanti juga diidentikkan Barbie Indonesia karena gaya hidupnya yang serba “wah” dan kepopulerannya. Tetapi julukan itu patah seiring KD menikah dengan Anang. Hal itu karena sosok Barbie tidak pernah menikah, meski dia punya pangeran tampan yang selalu mendampinginya. Namun semakin tahun, banyak Barbie-Barbie hidup lainnya Indonesia bermunculan. Mereka berusaha membuat diri mereka cantik dan tetap cantik meski dengan cara membohongi usia. Jika ingin membuktikannya, kehadiran mereka dapat sangat mudah kita saksikan di tempat-tempat keramaian “high class”. Sungguh fenomena yang menarik dari sebuah boneka tak bernyawa.
Pernah ada cerita, suatu saat perusahaan yang memproduksi Barbie memasarkan Barbie dengan jenis baru, yaitu Barbie dengan konstruksi wanita cantik berkulit hitam atau negro. Namun sungguh mencengangkan, banyak para wanita penggemar Barbie diseluruh dunia memprotes diproduksinya Barbie jenis ini. Hingga akhirnya, Barbie jenis ini ditarik dari pasaran oleh perusahaan pengahasilnya, Mattel Inc.
Apa yang membuat fenomena ini terjadi? Tidak lain dan tidak bukan karena kecantikan Barbie jenis itu tidak sesuai dengan konstruksi cantik yang ada di dalam pikiran mereka. Bukan cantik seperti itu pula yang mereka inginkan dari Barbie yang menjadi kiblat mereka untuk meraih kecantikan. Sampai sekarang, dipenjuru dunia manapun anda akan sulit bahkan tidak akan pernah menemukan boneka Barbie dengan kulit hitam atau negro. Sungguhpun hanya sekadar boneka, namun efek dari keberadaannya tidak bisa diremehkan karena bisa menyaingi seleb-seleb cantik yang semenjak dahulu selalu menjadi idola wanita diberbagai penjuru dunia.
Water Lippman (dalam Rivers, dkk; 2003) menjelaskan bahwa dunia objektif yang dihadapi manusia itu “tak terjangkau, tak terlihat, dan tak terbayangkan.” Hingga manusia menciptakan sendiri dunia dipikirannya dalam upayanya sedikit memahami dunia objektif. Pada akhirnya, perilaku manusia tidak didasarkan pada kenyataan yang sesungguhnya, melainkan kenyataan ciptaannya sendiri. Penjelasan Lippman ini juga sangat tepat digunakan dalam memahami kasus yang terjadi pada fenomena kegilaan masyarakat, terutama wanita, terhadap boneka Barbie yang menjadi simbol kecantikan hingga sekarang. Hal itu karena masyarakat telah meciptakan konstruksi pemikiran sendiri tentang kecantikan yang dibentuk oleh media lewat boneka Barbie (budaya massa), hingga tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya.
Penelitian yang dilakukan Mary F. Rogers menyatakan Barbie sebagai ikon kecantikan khas Amerika. Dalam wawancara yang ia lakukan kepada masyarakat Amerika, seorang Pria berusia empat puluhan mengatakan sebagai berikut:
“Rambut yang indah. Kaki yang jenjang. Payudara yang sempurna. Pinggang yang ramping laksana jam pasir. Selama beberapa tahun, gambaran ini adalah apa yang saya bayangkan mengenai wanita ideal. Gambaran ideal ini merasuki pikiran saya saat masih sangat muda, barangkali lima atau enam tahun. Itu adalah saat ketika saya pertama kali melihat sekilas sosok boneka Barbie tanpa pakaian sama sekali”.
Dari pernyataan itu dapat kita simpulkan bahwa betapa kecantikan Barbie tidak hanya merasuki pikiran para wanita agar menjadi seperti dia, tetapi juga sosok wanita impian para pria yang menimbulkan fantasi seksualitas pada diri mereka. Hal ini pulalah yang menjadi salah satu alasan wanita untuk mengejar kecantikan seperti Barbie, yaitu agar mereka dipuja banyak pria seperti Barbie.
Mengenai pernyataan penuh sanjungan tersebut, adapula yang kurang setuju. Mereka yang kurang setuju beranggapan bahwa payudara Barbie yang terlihat besar itu hanyalah karena pinggangnya yang sangat kecil. Lepas dari pernyataan-pernyataan itu, Barbie tetap dianggap sebagian orang lainnya merupakan sosok kesempurnaan wanita yang sangat “menakutkan”. Artinya, kesempurnaan yang sangat luar biasa sebagai sosok wanita.
Dalam bukunya mengenai boneka dan mainan anak-anak, Bob Dixon menekankan bahwa jari-jemari Barbie menyatu sehingga dia tidak dapat menggenggam ataupun memegang sesuatu. Dixon juga mencatat bahwa dengan atau tanpa alas kaki, Barbie tidak pernah berdiri sendiri tanpa dibantu (Mary F. Rogers, Barbie Culture; 1999). Hal itu jelas sekali bahwa Barbie adalah sosok yang tidak bisa mandiri dan tidak bisa apa-apa tanpa digerakkan oleh orang lain. Sangat kontras dengan sosok manusia hidup seperti kita. Kita bisa melakukan apa saja dengan kemauan dan kerja keras hingga akhirnya membuahkan keberhasilan.
Barbie merupakan objek yang dipenuhi citra gender. Sosiolog R. W. Connell (1987) mengatakan Barbie sebagai representasi “femininitas yang tegas”, yaitu gaya berpenampilan dan bersikap feminin yang begitu diharapkan dan dikukuhkan dalam realitas masyarakat kita (Mary F. Rogers, Barbie Culture; 1999). Bisa dikatakan, apapun pekerjaan Barbie, entah dia menjadi Polisi ataupun atlet sekalipun, ia tetap berperilaku dan berpenampilan feminin dan tidak pernah terlihat maskulin. Dalam hal ini, perilaku Barbie mengajarkan hal positif tentang pembentukan jati diri kepada para gadis, bahwa “tanpa menjadi laki-laki pun perempuan bisa menaklukan dunia”.
Lepas dari semua itu, perdebatan tentang kesempurnaan Barbie ternyata hanyalah sampai pada penampilan dan bagian-bagian tubuhnya saja. Sungguh yang dimiliki manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna lebih dari hanya sekadar tubuh dan penampilan. Manusia punya hati, akal, pikiran, skill, cita-cita, masa depan, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan manusia dengan inner beauty yang dianugerahkan kepadanya. Lebih dari sekadar apa yang bisa diperbuat boneka Barbie ataupun Barbie-Barbie hidup yang hanya mengandalkan kecantikan tubuh dan penampilan luar saja.


Writer: Farhanah
Photo by: www.barbie-game.com

1 komentar: